Pagi itu, kabut masih tebal di lereng Gunung Arfak. Jalan tanah yang licin dilalui dengan langkah hati-hati oleh seorang lelaki paruh baya bernama Pak Yakob . Di pundaknya tergantung tas kulit yang…
Angin pagi menampar lembut wajahku ketika aku tiba di sekolah. Udara Larantuka masih basah oleh embun, dan di bawah pepohonan flamboyan yang bermekaran merah menyala, anak-anak sudah berlari-lari kec…
Fajar belum sepenuhnya bangun ketika suara batuk kecil terdengar dari tikar di ruang tengah. “Ma… air…” Suara itu lemah dan serak. Ibu menoleh. Di tikar tipis itu, anak semata wayangnya, Jemi, m…
Di ufuk barat yang lembut bergetar, matahari menumpahkan emas terakhirnya ke tubuh laut yang tenang— di sanalah Kaimana bernafas dalam cahaya. Langit memerah seperti hati yang rindu, ombak berdekap…
Di bawah langit biru Kaimana, angin menulis puisi di atas ombak, membawa bisik leluhur dari batu karang dan bintang, tentang laut yang jujur menjaga rahasia, tentang tanah yang menumbuhkan kasih di s…
Pagi turun perlahan seperti embun yang menahan tangis. Di meja makan, nasi sudah mengepul, telur mata sapi mulai dingin, dan suamiku masih sibuk menatap layar ponselnya—jari-jarinya lincah menekan …
Aku selalu percaya bahwa setiap doa memiliki jalannya sendiri untuk sampai ke surga. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang melalui jalan yang terang, kadang melalui padang gersang yang membuat lutut …
Oleh: MDB Hujan sore itu jatuh perlahan, menetes di jendela ruang makan yang setengah terbuka. Dina menatap jam dinding—pukul tujuh malam. Nasi sudah dingin, lauk mulai kering, dan lampu dapur be…