LENTERA DI UJUNG NEGERI

Posting Komentar

 


Pagi itu, kabut masih tebal di lereng Gunung Arfak. Jalan tanah yang licin dilalui dengan langkah hati-hati oleh seorang lelaki paruh baya bernama Pak Yakob. Di pundaknya tergantung tas kulit yang sudah lusuh, berisi spidol, beberapa buku cetak, dan papan tulis kecil yang dibuat dari potongan tripleks bekas.

Setiap pagi, Pak Yakob menempuh perjalanan hampir empat kilometer dari rumahnya menuju SMA Negeri Harapan Bangsa, sekolah yang berdiri di perbatasan antara dua desa Papua Barat. Sekolah itu hanya memiliki tiga ruang kelas, satu ruang guru, dan papan bendera yang catnya mulai mengelupas. Tapi bagi Pak Yakob, sekolah itu bukan sekadar tempat bekerja—itulah tanah pengabdian, tempat di mana ia menanam harapan untuk masa depan negeri.

 

 Cahaya di Balik Kabut.

Anak-anak mulai berdatangan, sebagian tanpa alas kaki, sebagian lainnya masih mengenakan seragam yang robek di bagian lutut. Namun mata mereka berbinar ketika melihat sosok Pak Yakob datang sambil tersenyum.

“Selamat pagi, anak-anak!” serunya dengan suara lantang.

“Selamat pagi, Pak Guru!” jawab mereka serempak.

Di depan kelas, Pak Yakob menuliskan di papan tulis:
“Pendidikan adalah lentera kehidupan.”

Ia lalu bercerita tentang Ki Hajar Dewantara, tentang makna merdeka belajar, dan tentang bagaimana ilmu dapat mengubah nasib seseorang. Tak jarang ia mengaitkannya dengan kisah perjuangan para pahlawan nasional, agar anak-anak memahami bahwa belajar bukan sekadar mencari nilai, melainkan membangun kekuatan bangsa.

Namun, di balik semangatnya, ada beban berat yang ia pikul. Gaji sebagai guru honorer sering terlambat turun. Istrinya, Ibu Maria, yang juga guru di sekolah lain, sering mengeluh karena biaya hidup terus naik.

“Dar, sampai kapan kita begini?” tanya Bu Maria suatu malam sambil menyiapkan makan malam sederhana.
“Sampai Indonesia benar-benar kuat, Maria. Dan itu harus dimulai dari guru yang tidak menyerah,” jawabnya lembut.

 

Sekolah di Tengah Hujan.

Suatu hari, hujan turun deras sejak pagi. Sungai di depan sekolah meluap, dan jembatan bambu satu-satunya nyaris hanyut. Banyak orang tua melarang anaknya ke sekolah. Tapi Pak Yakob tetap datang, membawa mantel plastik dan seikat bambu di tangannya.

Dengan bantuan dua murid laki-laki, ia memperbaiki jembatan itu seadanya agar anak-anak bisa menyeberang. Tangan dan pakaiannya kotor oleh lumpur, tapi senyumnya tak pernah hilang.

Ketika anak-anak mulai masuk kelas, ia berkata,
“Anak-anakku, hujan boleh deras, tapi semangat tidak boleh padam. Kalau kita mau berjuang, apa pun bisa kita lalui.”

Hari itu, ia mengajarkan pelajaran Bahasa Jerman tentang Sich Vorstellen (Perkenalan Diri). Namun sebenarnya, yang ia ajarkan bukan sekadar struktur Bahasa Jerman, melainkan pelajaran hidup tentang keteguhan hati.

 

Surat untuk Presiden.

Suatu malam, setelah anak-anak tidur, Pak Yakob menulis surat.
Ia menulis bukan untuk mengeluh, tetapi untuk bercerita tentang harapan.

“Kepada Bapak Presiden Republik Indonesia,

Saya hanyalah guru di pelosok kecil. Kami tidak punya laboratorium, tidak punya proyektor, bahkan buku pun sering kami fotokopi bergantian. Tapi kami punya semangat, Bapak. Kami ingin anak-anak kami cerdas, mandiri, dan mencintai tanah air.

Tolonglah, jangan lupakan kami yang mengajar di ujung negeri. Kami tidak meminta banyak, hanya kesempatan agar anak-anak desa kami bisa bermimpi setinggi langit.

Dari saya, seorang guru kecil untuk Indonesia yang besar.

Hormat saya,
Yakob.”

Ia tak pernah tahu apakah surat itu sampai. Tapi menulis surat itu membuatnya merasa lega—seolah ia baru saja menyalakan lilin kecil di tengah gelapnya malam negeri yang sedang belajar berdiri lebih kuat.

 

Sang Murid yang Kembali.

Lima belas tahun kemudian, sekolah itu berubah. Kini ada gedung baru, lapangan bersih, dan laboratorium sederhana hasil program pemerintah. Di tengah perubahan itu, Pak Yakob sudah menua, rambutnya memutih, jalannya tak lagi cepat.

Suatu pagi, sebuah mobil hitam berhenti di halaman sekolah. Seorang pria muda turun dengan senyum lebar.
“Selamat pagi, Pak Yakob,” katanya sambil menunduk hormat.

Pak Yakob memandang lama, matanya berkaca-kaca.
“Henok? Henok kecil yang dulu suka menulis di batu karena tak punya buku itu?”
“Iya, Pak. Sekarang saya dosen di universitas di Jakarta. Saya pulang untuk membangun perpustakaan di sini, untuk anak-anak yang dulu seperti saya.”

Pak Yakob tertegun.
“Jadi kau kembali untuk mengajar?”
“Bukan hanya mengajar, Pak. Saya ingin meneruskan semangat Bapak. Bapak guru hebat saya. Karena Bapak, saya percaya bahwa ilmu bisa mengubah nasib bangsa.”

Mata Pak Yakob basah. Dalam diam, ia tahu bahwa perjuangannya tidak sia-sia.

 

Indonesia Kuat Dimulai dari Guru.

Beberapa bulan kemudian, desa mereka terpilih sebagai percontohan sekolah digital desa terpencil. Ketika wartawan datang meliput, Pak Yakob hanya tersenyum malu di pojok ruangan.

Seorang wartawan bertanya,
“Pak, apa rahasia Anda membangun sekolah ini sampai berubah begitu banyak?”

Pak Yakob menjawab pelan,
“Tidak ada rahasia, Nak. Kami hanya percaya bahwa guru bukan sekadar pengajar. Guru adalah penyala api. Kalau apinya kecil, bangsa ini dingin. Tapi kalau apinya besar dan tulus, Indonesia akan hangat dan kuat.”

Ia kemudian menatap bendera merah putih yang berkibar di halaman. Di matanya, warna merah bukan sekadar darah pahlawan, tapi juga semangat guru-guru kecil di pelosok negeri yang terus berjuang tanpa pamrih.

 

Lentera yang Tak Pernah Padam.

Ketika usia Pak Yakob mencapai 60 tahun, ia diminta pensiun. Murid-muridnya datang, membawa bunga dan tangis. Kepala sekolah membacakan pidato penghormatan, menyebut namanya sebagai “Guru Penggerak Inspiratif 2030”.

Namun Pak Yakob hanya berkata singkat:
“Kalau saya berhenti mengajar, maka saya berhenti hidup. Karena guru sejati tak pernah pensiun.”

Dan benar. Beberapa minggu setelahnya, ia membuka kelas baca gratis di rumahnya. Ia mengajarkan anak-anak membaca, menulis puisi, dan mencintai Indonesia. Rumahnya menjadi tempat belajar kecil yang penuh warna.

Di dinding ruang tamu tergantung foto-foto muridnya yang kini tersebar di berbagai tempat: ada yang jadi dokter, tentara, arsitek, bahkan anggota DPR. Semua pernah duduk di bangku reyot di SMA Harapan Bangsa. Semua pernah disentuh oleh tangan seorang guru hebat yang mengajar dengan cinta.

 

 

 

Api yang Diteruskan.

Suatu pagi, Henok datang lagi membawa anaknya yang berusia tujuh tahun.
“Pak, ini Sendika, anak saya. Saya ingin dia belajar membaca di tempat Bapak dulu mengajar.”

Pak Yakob tersenyum, menatap bocah itu dengan mata yang bergetar.
“Nak Sendika, tahu tidak arti belajar?”
Bocah itu menggeleng.
“Belajar itu seperti menyalakan lilin. Semakin banyak lilin yang menyala, semakin terang dunia kita. Jadilah lilin itu, ya.”

Anak kecil itu tersenyum dan mengangguk. Di matanya, cahaya kecil mulai tumbuh—cahaya yang sama seperti yang dulu Pak Yakob tanamkan pada ayahnya.

 

Indonesia Kuat.

Beberapa tahun kemudian, ketika Pak Yakob sudah berpulang, sekolah itu berganti nama menjadi SMA Negeri Darsa Harapan Bangsa. Setiap Hari Guru Nasional, anak-anak membacakan puisi di halaman sekolah.

Salah satu bait puisi itu berbunyi:

“Guru hebat menanam kata menjadi harapan,
Mengubah luka menjadi kekuatan,
Di tangan mereka, bangsa dibangun bukan dengan kekuasaan,
Melainkan dengan kasih dan kesabaran.”

Dan di bawah pohon beringin tua, berdiri monumen kecil bertuliskan:

“Guru Hebat, Indonesia Kuat.”

Setiap kali bendera dikibarkan, suara anak-anak menggema di udara pegunungan:
“Terima kasih, Pak Yakob. Karena Bapak, kami mencintai Indonesia.”

Dan entah dari langit mana, mungkin dari balik awan, terdengar seakan-akan suara lembut menjawab:
“Teruslah belajar, anak-anakku. Karena selama ilmu dinyalakan dengan cinta, Indonesia akan selalu kuat.”

 

Karya Osin Bahy
saya osin bahy
Terbaru Lebih lama

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar