DI BAWAH BAYANG LILIN BUNDA

Posting Komentar


 

Aku selalu percaya bahwa setiap doa memiliki jalannya sendiri untuk sampai ke surga. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang melalui jalan yang terang, kadang melalui padang gersang yang membuat lutut harus bersujud lama. Namun aku juga tahu: tak ada satu pun doa yang hilang, bila diserahkan kepada Bunda Maria — Bunda segala bangsa, Bunda Juruselamat.

Aku seorang Katolik sederhana. Rumahku di pinggir kota, berdiri di antara ladang jagung dan angin yang membawa debu. Di ruang tengah, di atas meja kecil dari kayu mahoni, berdiri sebuah patung Bunda Maria setinggi lengan anak kecil — wajahnya lembut, mata menunduk seolah sedang mendengarkan rahasia dunia. Setiap malam aku menyalakan lilin di depannya, dan di sanalah aku berbicara kepada-Nya. Kadang dengan air mata, kadang dengan senyum. Kadang hanya dengan diam.

***

Aku ingat malam pertama aku sungguh berdoa kepada Bunda. Waktu itu, aku baru saja kehilangan pekerjaan. Pandemi baru saja melanda; toko tempatku bekerja menutup pintu tanpa janji akan buka kembali. Aku duduk di depan altar kecil itu, dengan tangan gemetar dan dada sesak oleh rasa takut. “Bunda,” kataku pelan, “aku tak tahu harus bagaimana. Tapi aku percaya Engkau tahu. Bunda Yesus, bantulah aku.”

Malam itu aku tidak mendapat jawaban. Tidak ada suara, tidak ada tanda. Tapi ada sesuatu yang lembut mengisi hatiku — seolah Bunda hanya berkata, *Tunggulah, anakku. Doamu sudah sampai.*

Tiga minggu kemudian, teleponku berdering. Seorang teman lama mengajakku bekerja di sekolah Katolik kecil sebagai guru sukarelawan. Gajinya kecil, tapi cukup untuk makan dan membayar listrik. Aku terdiam lama sebelum menjawab “ya.” Dan malam itu, aku kembali ke depan altar, menyalakan lilin baru, dan berbisik: “Terima kasih, Bunda.”

***

Sekolah itu sederhana, berdinding kayu, dengan anak-anak yang datang tanpa sepatu dan membawa semangat yang tak bisa dibeli. Di sana, aku belajar arti pelayanan. Tapi juga, di sana, aku diuji.

Suatu pagi, anak didikku bernama Riko jatuh sakit keras. Ia pingsan di kelas, dan keluarganya tidak punya cukup uang untuk berobat. Aku membawanya ke klinik desa, dan di sana dokter berkata bahwa ia perlu perawatan di kota. Biayanya lebih besar dari apa pun yang kumiliki.

Malam itu, aku kembali ke depan patung Bunda. Lilin hampir habis, tapi aku menyalakannya juga. “Bunda,” kataku, “jika Engkau benar Bunda segala bangsa, tolonglah anak kecil ini. Aku tahu Engkau mendengar semua doa, bahkan dari yang kecil seperti aku.”

Aku menangis lama malam itu. Lalu tertidur di depan altar, kelelahan oleh harapan. Keesokan paginya, seseorang mengetuk pintu rumah. Ketika kubuka, ternyata kepala sekolah datang dengan mata berbinar. Ia baru saja menerima kabar bahwa sebuah yayasan Katolik dari Belanda menyumbangkan dana untuk anak-anak sakit di sekolah kami. Nama pertama yang mereka sebut dalam surat: *Riko*.

Aku terdiam. Dunia serasa berhenti sejenak. Lalu aku menatap ke altar, dan melihat lilin semalam masih menyisakan sumbu kecil yang belum padam. “Terima kasih, Bunda,” bisikku lagi.

***

Hari-hari berikutnya berjalan seperti aliran sungai kecil — tenang, kadang berbatu, tapi selalu menuju lautan. Aku mulai mengerti, bahwa setiap kali aku berseru kepada Bunda Maria, yang datang bukan hanya jawaban, tetapi juga kekuatan untuk menanggung waktu di antara doa dan pengabulan.

Aku menjadi lebih dekat kepada-Nya. Kadang aku berbicara tanpa kata-kata. Kadang aku hanya duduk diam di depan patung itu, sambil menatap wajah lembut yang menunduk dalam kasih. Ada sesuatu pada wajah itu — sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh iman yang dangkal atau pengetahuan teologis. Ia seperti pelukan yang tak berujung, tempat semua kegelisahan menemukan rumah.

***

Namun, suatu hari, imanku kembali diguncang. Ayahku sakit keras. Tubuhnya melemah perlahan, dan dokter berkata penyakitnya sulit disembuhkan. Aku menolak percaya. Setiap malam aku berdoa di depan altar, menyalakan lilin, berlutut, menangis, berbisik, bahkan menawar: “Ambillah sebagian umurku, Bunda, asal jangan ambil dia dulu.”

Tapi tubuh ayahku tetap melemah. Hingga akhirnya, pada suatu subuh yang tenang, ia pergi dalam damai. Aku merasa kosong. Kali ini, aku tidak langsung menyalakan lilin. Aku hanya duduk di lantai, menatap patung itu dengan rasa marah yang tak bisa kutahan. “Bunda,” suaraku gemetar, “mengapa? Aku sudah berdoa. Aku percaya. Mengapa tidak Kau sembuhkan?”

Tak ada jawaban. Hanya keheningan. Tapi entah mengapa, di tengah kesunyian itu, aku mendengar sesuatu yang lebih dalam dari suara — sebuah kedamaian yang perlahan menyusup ke dada. Seolah Bunda hanya berkata: *Anakku, doa tidak selalu mengubah kenyataan. Kadang doa mengubah hati yang menerima kenyataan itu.*

Aku menangis lama sekali malam itu. Tapi setelahnya, aku merasakan sesuatu yang baru: bukan kehilangan, melainkan penerimaan. Aku tahu, Bunda Maria tidak pernah menjanjikan bahwa dunia ini akan bebas dari duka. Ia hanya menjanjikan bahwa kita tidak akan berjalan sendiri.

***

Sejak hari itu, setiap kali aku berdoa, aku tidak hanya memohon sesuatu. Aku berbagi. Aku berbicara seperti seorang anak kepada ibunya — tentang rasa syukur, tentang lelah, tentang tawa murid-muridku, tentang bunga yang tumbuh di taman sekolah. Dan setiap kali lilin menyala, aku merasa tidak sendiri.

Suatu hari, seorang murid kecil bertanya kepadaku: “Bu, kenapa Ibu selalu berdoa sama patung itu? Bisa dengar, ya?” Aku tersenyum. “Bisa, kalau kita bicara dengan hati,” jawabku. “Bunda Maria itu ibu semua orang di dunia. Kalau kamu sedih, kamu juga boleh cerita padanya.” Anak itu mengangguk pelan, lalu ikut menyalakan lilin kecil di depan patung. Dan entah bagaimana, ruangan kecil itu terasa hangat oleh sesuatu yang tak terlihat — mungkin cinta.

***

Bertahun-tahun sudah berlalu sejak malam pertama aku berdoa di bawah cahaya lilin itu. Banyak hal terjadi: kesedihan, sukacita, kehilangan, penemuan. Tapi satu hal tak pernah berubah — keyakinan bahwa Bunda Maria selalu hadir di tengah segala sesuatu. Ia bukan hanya Bunda Yesus, tetapi juga Bunda segala bangsa, Bunda yang memahami setiap bahasa air mata.

Kini, setiap kali aku menatap wajah lembut itu, aku tahu: setiap doa yang kuucapkan, besar atau kecil, sudah sampai di tangan yang sama — tangan seorang Ibu yang dulu menggendong Juruselamat dunia.

Dan aku percaya, semua yang datang kepada-Nya dengan hati terbuka, pasti dijawab — entah dengan keajaiban, entah dengan kekuatan untuk terus berjalan.

***

Malam ini, seperti biasa, aku menyalakan lilin di depan patung itu. Api kecil menari di udara, dan cahaya lembutnya memantul di mata Bunda. Aku tersenyum. “Terima kasih, Bunda,” kataku pelan. “Untuk semua yang Kau izinkan terjadi. Untuk setiap jawaban yang Kau titipkan dalam cara yang indah.” Lilin itu bergetar lembut, dan dalam diam aku merasa Bunda tersenyum kembali. Dan malam menjadi damai — seolah surga menurunkan sayapnya di atas rumah kecilku.

— Tamat —

Karya Osin Bahy
saya osin bahy

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar