Pagi turun perlahan seperti embun yang menahan tangis. Di meja makan, nasi sudah mengepul, telur mata sapi mulai dingin, dan suamiku masih sibuk menatap layar ponselnya—jari-jarinya lincah menekan tombol, seolah dunia di dalam Facebook lebih nyata daripada wajahku di hadapannya.
“Ama, sarapannya nanti dingin,” kataku pelan.
“Sebentar, aku lagi balas komentar dulu. Ini penting.”
Aku menatapnya. Rasanya ingin bertanya, penting untuk siapa? Tapi aku menahan diri. Sudah sering aku bicara, dan terlalu sering pula percakapan berakhir dengan suara tinggi, bukan pemahaman.
Aku berangkat kerja dengan langkah yang berat, bukan karena lelah, tapi karena ada ruang dalam hati yang semakin kosong. Gajiku tak seberapa, tapi aku tahu aku tak punya pilihan lain. Aku adalah tiang kecil yang menyangga rumah yang mulai retak.
Siang itu, di ruang kerja yang pengap, aku menatap layar komputer yang menampilkan angka-angka tagihan. Mataku perih. Telepon berdering.
“Bu Maria, maaf ya, bisa tolong bantu sebentar? Ada kekurangan dana operasional minggu ini.”
Aku menarik napas dalam. “Iya, nanti saya bantu carikan. Saya coba pinjam ke kenalan dulu.”
Sudah entah keberapa kalinya aku meminjam. Dulu aku malu, sekarang aku hanya mati rasa. Ada rasa getir setiap kali mengetik pesan ke teman:
‘Maaf ya, bisa bantu pinjam sebentar? Nanti gajian saya kembalikan.’
Kadang dibalas cepat, kadang tidak dibalas sama sekali. Di setiap pesan yang tak dijawab, ada pantulan wajahku sendiri—letih, tapi masih berpura-pura kuat.
Malam datang. Aku pulang dengan kepala penuh beban. Di rumah, suamiku duduk di ruang tamu, masih menatap layar ponsel.
“Ama, tadi aku harus pinjam lagi,” kataku.
Ia tidak menoleh. “Minjam lagi? Kamu tuh boros, ya.”
“Boros? Aku bayar listrik, air, uang sekolah anak, sembako, bensin… Apa yang boros?”
Ia menatapku sejenak lalu menghela napas. “Kamu kan kerja. Seharusnya cukup kalau diatur.”
Kata-kata itu menghantamku. Aku ingin berteriak, tapi hanya tersenyum getir.
“Cukup?” ujarku lirih. “Kamu tahu berapa yang aku hasilkan sebulan? Cukup bahkan untuk hidup sendiri pun tidak. Tapi kita bertiga hidup dari situ.”
Ia menatapku dengan dingin. “Aku juga berusaha. Aku bikin konten, aku ikut grup bisnis online.”
Aku menatap ponselnya—isi layar hanya berisi komentar dan emoji dari teman-teman lamanya.
“Berusaha?” aku hampir tertawa. “Berusaha membuktikan diri ke dunia maya, sementara dunia nyata kita hampir runtuh?”
Suara kami naik. Anak kami keluar dari kamar, membawa boneka lusuhnya.
“Bunda, Ayah, jangan berantem…”
Aku langsung terdiam. Suamiku menghela napas panjang, lalu masuk ke kamar tanpa sepatah kata pun.
Aku memeluk anakku. Ia menatapku dengan mata cemas yang terlalu dewasa untuk usianya.
“Bunda nggak apa-apa, ya?”
Aku tersenyum, memaksakan lembut. “Bunda nggak apa-apa, Sayang. Tidur, ya.”
Tapi setelah ia terlelap, aku duduk lama di ruang tamu, menatap gelap yang tak punya jawaban.
Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri bicara lagi.
“Ama, aku minta tolong. Uang belanja minggu ini kurang. Kamu bisa bantu cari kerja apa saja dulu, mungkin freelance, atau bantu teman jualan.”
Ia tertawa pendek. “Kamu pikir gampang cari kerja sekarang? Lagi pula, kalau aku kerja, siapa yang jaga anak?”
“Anak sudah sekolah, Ama. Setengah hari di sekolah, setengah hari di rumah aku masih bisa urus. Aku cuma butuh kamu berusaha sedikit. Kita butuh hidup, Ama…”
Ia diam lama, lalu berkata datar, “Aku tidak mau disuruh-suruh. Kamu saja yang terlalu ambisius. Seolah semua orang harus seperti kamu.”
Aku terpaku. Ambisius?
Yang kulakukan hanyalah bertahan.
Aku tidak ingin kaya, aku hanya ingin hidup tanpa harus menunduk setiap kali menagih janji hidup bersama.
Beberapa minggu kemudian, aku jatuh sakit. Tubuhku lelah, bukan karena pekerjaan, tapi karena menahan segalanya sendirian. Suamiku masih seperti biasa—memasak mie instan, memposting foto dengan caption motivasi.
Suatu malam aku mendengar ia bicara di telepon.
“Iya, hidup itu jangan dibikin stres. Istriku tuh, kerja mulu. Aku santai aja. Rezeki mah ada jalannya.”
Hatiku bergetar. Aku memejamkan mata. Santai?
Ada seseorang yang harus mengutang agar dapur tetap mengepul, sementara ia merasa menjadi korban tekanan.
Aku menulis di buku catatanku malam itu:
“Cinta tidak seharusnya memenjarakan satu orang untuk kebebasan orang lain. Jika aku tetap diam, aku akan kehilangan diriku sendiri.”
Beberapa hari kemudian, aku mengajak bicara sekali lagi.
“Ama, aku tidak marah. Aku cuma ingin kita bicara baik-baik. Aku capek sendirian. Aku nggak mau rumah ini cuma diisi oleh dua orang asing yang saling diam.”
Ia menatapku, lalu berkata dingin, “Kalau kamu tidak tahan, kamu pergi saja.”
Aku terdiam. Begitu ringan katanya mengucapkan hal yang begitu berat.
Malam itu aku menangis tanpa suara, di sudut kamar. Anak kami tertidur di pelukanku. Aku mencium rambutnya yang berbau sabun mandi murahan. Demi dia aku bertahan, pikirku.
Bulan berikutnya, aku mulai mengambil pekerjaan tambahan. Menulis artikel, menjahit baju kecil-kecilan. Tidurku berkurang, tapi hatiku sedikit lebih tenang.
Aku sadar, aku tidak bisa terus menunggu seseorang yang tak lagi mau berjalan bersamaku.
Setiap pagi, aku tetap menyiapkan sarapan. Ia masih duduk di sana, dengan ponsel di tangan, tapi kini aku tak lagi berharap ia akan memandangku.
Aku belajar hidup tanpa pengakuannya, tanpa ucap “terima kasih” atau “maaf”.
Suatu malam, ketika listrik mati, aku menyalakan lilin dan memandangi wajahnya yang diterangi cahaya redup.
“Aku tidak benci kamu, Ama,” kataku pelan. “Aku cuma lelah berharap sesuatu yang tak pernah kamu perjuangkan.”
Ia tidak menjawab. Hanya hening yang memanjang, seperti jurang di antara kami yang tak lagi bisa dijembatani.
Pagi berikutnya, aku menatap cermin. Ada lingkar hitam di bawah mata, tapi ada juga cahaya kecil di sana—cahaya dari seseorang yang mulai berdamai dengan dirinya sendiri.
Aku menyadari:
Cinta bukan tentang siapa yang paling lama bertahan, tapi siapa yang tetap jujur pada luka dan tidak berhenti memperjuangkan hidup.
Kini aku bekerja bukan karena terpaksa, tapi karena aku ingin menghidupkan makna. Aku tetap istri, tetap ibu, tapi juga perempuan yang belajar mencintai dirinya kembali.
Dan malam-malam yang dulu terasa dingin, kini kupenuhi dengan doa yang sederhana:
“Tuhan, kuatkan aku bukan untuk menahan segalanya, tapi untuk tahu kapan harus berhenti menahan.”

Posting Komentar
Posting Komentar