matahari menumpahkan emas terakhirnya
ke tubuh laut yang tenang—
di sanalah Kaimana bernafas dalam cahaya.
Langit memerah seperti hati yang rindu,
ombak berdekap pada pasir
seolah tak ingin berpisah dengan waktu.
Segalanya teduh, dan indah,
seperti doa yang tak pernah selesai dibisikkan alam.
Anak-anak berlari di tepi dermaga,
mengejar bayang perahu yang pulang.
Sementara camar menulis puisi di udara,
tentang laut, tentang cinta, tentang pulang.
Ah, Kaimana—
engkau bukan hanya kota,
engkau adalah bait panjang
dalam kitab senja dan kenangan,
tempat matahari berpamit dengan lembut,
dan jiwa menemukan makna yang lain dari “indah.”
Posting Komentar
Posting Komentar