Angin pagi menampar lembut wajahku ketika aku tiba di sekolah. Udara Larantuka masih basah oleh embun, dan di bawah pepohonan flamboyan yang bermekaran merah menyala, anak-anak sudah berlari-lari kecil sambil bercanda. Aku tersenyum. Seperti biasa, sebelum bel berbunyi, aku sudah di kelas—menata papan tulis, menyusun alat peraga, dan menuliskan kutipan hari itu:
“A arte é o coração que fala quando as palavras se calam.”
(Seni adalah hati yang berbicara ketika kata-kata diam.)
Aku mengajar Bahasa Portugis. Tapi sesungguhnya, aku hidup di dalam dunia teater. Setiap sore, setelah jam pelajaran usai, ruang aula yang sepi berubah menjadi panggung kecil. Di sanalah aku melatih anak-anak—mengajarkan mereka bagaimana menatap penonton, bagaimana menangis tanpa air mata, bagaimana berteriak dengan jiwa. Teater bagi kami bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah terapi, cara kami mengobati luka-luka yang tak sempat dibicarakan.
Mungkin itu sebabnya aku begitu menyatu dengan anak-anak. Aku mengenal mereka bukan hanya dari nilai rapor, tapi dari cara mereka menunduk, dari bagaimana mereka menahan air mata saat latihan, dari bagaimana mereka tersenyum lelah setelah menyalakan lampu sorot sederhana.
Suamiku meninggal tiga tahun lalu. Sebelum itu, rumahku bukan panggung bahagia. Ia sering pulang larut, dengan aroma asing di tubuhnya. Aku tahu, aku bukan lagi satu-satunya pemeran dalam hidupnya. Aku diam, bukan karena lemah, tapi karena cinta yang mati tidak perlu diperdebatkan.
Ketika ia pergi untuk selamanya—tanpa kata maaf, tanpa genggaman tangan terakhir—aku hanya duduk di depan altar kecil di rumah. Air mataku jatuh bukan karena kehilangan, tapi karena Tuhan menjawab doaku dengan cara yang tak kumengerti: membebaskanku dari kepura-puraan.
Sejak saat itu, aku belajar menyalakan hidup kembali lewat hal-hal kecil: panggung teater, tawa anak-anak, musik dari gamelan dan tabuhan piring, serta aroma bedak panggung di wajah para pemainku. Aku tegar karena aku harus tegar. Ada seorang anak laki-laki yang setiap pagi menatapku dengan mata polos penuh harap. Ia adalah alasan mengapa aku tidak boleh hancur.
Namun di balik semangatku, ada bisik-bisik yang kerap kudengar di ruang guru.
“Dia sok sibuk,” kata seseorang suatu hari, ketika aku tengah menyiapkan properti lomba teater tingkat provinsi.
“Anak-anak itu menang bukan karena dia, tapi karena mereka latihan sendiri,” sambung yang lain sambil tersenyum sinis.
Aku hanya tersenyum. Aku tahu, tidak semua orang suka melihat api menyala di tengah abu. Sebagian orang lebih suka dingin, karena api mengingatkan mereka pada sesuatu yang pernah padam.
Ada kalanya aku merasa lelah. Aku pulang ke rumah kecilku, duduk di kursi rotan tua, memandangi foto almarhum suamiku dan anak laki-lakiku yang kini duduk di SMP. Aku ingin bercerita, tapi suara itu hanya bergema di dalam hati:
“Aku baik-baik saja, Tuhan. Mungkin kesepian adalah bentuk ibadah yang paling sunyi.”
Hari lomba tiba. Kami menampilkan naskah berjudul “Cahaya dari Timur” — kisah tentang seorang anak nelayan yang mencari Tuhan di laut yang marah. Anak-anak tampil dengan penuh jiwa. Ada yang menangis sungguhan di atas panggung, ada yang memeluk peran seperti memeluk luka sendiri.
Ketika nama sekolah kami diumumkan sebagai juara pertama, mereka berlari ke arahku. Mereka memelukku sambil berteriak, “Ibu! Kita menang!” Aku hanya bisa menahan air mata. Dalam dada ini, ada rasa lega yang tak bisa dijelaskan. Di tengah gemuruh tepuk tangan, aku melihat beberapa rekan guru menatap tanpa ekspresi. Mungkin iri, mungkin sinis. Tapi aku tidak peduli. Aku tahu siapa yang menyalakan api di dada anak-anak itu.
Malam itu, setelah semua pulang, aku duduk di aula yang kini gelap. Lampu sorot sudah padam, hanya tersisa sisa aroma cat dan keringat anak-anak. Aku menatap panggung itu—panggung kecil di mana aku menambal hidupku sendiri. Aku tersenyum pelan.
“Terima kasih, Tuhan,” bisikku, “karena Kau memberiku panggung baru ketika panggung lamaku runtuh.”
Suara jangkrik dari luar jendela menjadi musik pengiring terakhir malam itu. Aku berdiri, mematikan lampu, dan berjalan pulang dengan langkah ringan.
Di sekolah, aku tetap guru Bahasa Portugis. Aku tetap mengajarkan tata bahasa, konjugasi kata kerja, dan puisi Fernando Pessoa. Namun di dalam setiap kelas, aku menyelipkan sesuatu yang lebih penting: keberanian untuk mencintai hidup, bahkan ketika hidup tidak mencintai kita kembali.
Dan ketika bel sekolah berbunyi setiap pagi, aku tahu—panggungku bukan hanya aula dan lomba. Panggungku adalah hidup itu sendiri. Dan aku, pemeran utama yang tak akan berhenti berakting demi satu alasan sederhana: cinta yang tak pernah mati untuk anak-anak dan seni.
Posting Komentar
Posting Komentar