Di bawah langit biru Kaimana,
angin menulis puisi di atas ombak,
membawa bisik leluhur dari batu karang dan bintang,
tentang laut yang jujur menjaga rahasia,
tentang tanah yang menumbuhkan kasih di setiap nadi manusia.
Wahai pemuda Papua,
bangunlah dari tidur panjang kabut dan malas,
biarlah matamu jadi matahari,
yang menyalakan obor masa depan di genggaman nokenmu.
Isilah noken itu bukan hanya dengan sagu dan pisang,
tetapi juga huruf, mimpi, dan halaman-halaman yang terbaca.
Belajarlah seperti ombak—
yang tak pernah menyerah pada karang.
Membacalah seperti cahaya—
yang menyelinap lembut ke setiap jendela pagi.
Sebab ilmu adalah dayung,
yang akan menuntunmu melintasi badai zaman.
Jauhkan langkah dari pesta yang kehilangan arah,
dari pergaulan yang memadamkan cahaya nurani.
Jadilah pelangi di atas Teluk Triton:
berbeda warna, namun satu langit.
Rukunlah—seperti akar dan tanah yang saling menggenggam,
tak terlihat, tapi menguatkan kehidupan.
Kita ini anak budaya,
penjaga lagu-lagu batu, penenun noken nasib,
penyimpan doa di anyaman rindu hutan dan laut.
Cintailah tanahmu yang menumbuhkan pangan,
ubi, sagu, dan ikan di jala adalah puisi yang dapat disantap.
Itulah kekayaan sejati bangsa,
lebih berharga dari emas yang tertidur di perut bumi.
Tanah Papua—
bumi yang elok, tubuh Indonesia yang berdarah pelangi.
Dari ufuk timur kami menyalakan merah putih,
mengirim cinta ke seluruh penjuru negeri.
Indonesia mencintai Papua,
dan Papua mencintai Indonesia—
seperti laut mencintai pantai,
tak terpisah oleh waktu, tak terhapus oleh badai.
Kami bersumpah,
kami—pemuda yang lahir dari matahari timur,
kami—penjaga janji leluhur di bawah langit Merdeka,
kami—pemuda Indonesia,
satu tanah air, satu lidah, satu cinta:
INDONESIA.
saya osin bahy

Posting Komentar
Posting Komentar