Fajar belum sepenuhnya bangun ketika suara batuk kecil terdengar dari tikar di ruang tengah.
“Ma… air…”
Suara itu lemah dan serak.
Ibu menoleh. Di tikar tipis itu, anak semata wayangnya, Jemi, meringkuk dengan tubuh panas. Dahi kecilnya berkilat oleh keringat. Ia sudah tiga hari terbaring demam, dan obat dari puskesmas tak lagi bersisa.
Ibu mendekat, meraba dahinya, lalu duduk diam di sisi anaknya.
“Masih panas…” gumamnya.
Dari tungku di dapur, asap kayu sudah berhenti. Tak ada lagi minyak tanah di kaleng biru di pojok ruangan, tak ada beras tersisa di wadah logam di atas rak.
Yang tersisa hanya sedikit garam dan air dalam kendi setengah isi.
Ia menghela napas panjang. Dada terasa sesak.
Namun, dalam diam, ia menatap salib kecil yang tergantung di dinding ruang tengah.
“Ya Tuhan,” bisiknya lirih, “aku tidak tahu bagaimana caranya hari ini kami bertahan, tapi aku percaya Engkau tahu jalan itu.”
Pagi menjemput perlahan. Cahaya matahari menembus dinding papan yang renggang.
Ibu menimba air dari sumur, mencuci wajah, lalu menatap pantulan dirinya di permukaan ember.
Wajahnya tampak lelah, garis-garis usia memanjang di sekitar mata, tapi sorot matanya masih hangat: mata yang percaya, meski tak tahu apa yang akan datang.
Ia menatap Jemi yang tertidur, kemudian meraih selendang batik tua, berjalan menuju warung kecil di ujung jalan.
Ia berdiri lama di depan warung itu, memegang ujung kain selendangnya dengan gelisah.
Akhirnya ia melangkah masuk.
“Bu Ina,” katanya pelan, “bolehkah saya pinjam sedikit beras? Nanti kalau sudah dapat kerja lagi, saya ganti.”
Bu Ina memandangnya dengan wajah iba.
“Maaf, Bu Maria… saya pun tinggal sedikit stok. Belum ada kiriman dari kota.”
Ibu hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, Bu. Terima kasih.”
Ia melangkah pulang tanpa membawa apa-apa, tapi di hatinya masih terucap doa:
“Kalau bukan dari manusia, pasti Tuhan yang kirim.”
Siang datang dengan panas yang menyengat. Dapur tetap sepi, tungku dingin.
Dari kamar, suara kecil memanggil, “Ma, aku mau makan…”
Ibu menatap periuk kosong, lalu keluar ke halaman. Ia memetik beberapa daun kelor dari pohon di pinggir pagar, mencucinya, dan merebusnya dengan sedikit air garam.
Uap tipis mengepul, membentuk bayangan samar di udara.
Ia menatap air rebusan itu lama-lama, seperti sedang memandang mujizat kecil yang tumbuh dari kesabaran.
Ketika masakan sederhana itu siap, ia menuangkannya ke mangkuk kecil, meniup perlahan, lalu menyuapkan ke mulut anaknya.
“Pelan-pelan, Nak… Tuhan pasti bantu kita.”
Jemi tersenyum tipis. “Tuhan sayang sama Mama, ya?”
Ibu menatapnya, menahan air mata.
“Iya, sayang. Tuhan selalu sayang kita.”
Sore menjelang. Langit di atas kampung mulai berwarna jingga, dan angin laut bertiup lembut membawa bau tanah dan garam.
Ibu duduk di depan pintu, menatap langit yang perlahan memudar.
Pikirannya melayang pada hari-hari lalu: suami yang tak pernah kembali sejak pergi ke luar kota untuk bekerja, utang kecil di warung, tungku yang tak lagi menyala, dan malam-malam panjang yang dilalui dalam gelap.
Tapi ada satu hal yang tak pernah padam: keyakinan bahwa Tuhan selalu hadir, bahkan ketika Ia diam.
Ia mengingat kata Romo di gereja minggu lalu: “Mukjizat sering datang lewat tangan yang kita tidak sangka.”
Dan benar. Saat senja menurunkan cahaya terakhirnya, terdengar ketukan di pintu.
Tok-tok-tok.
“Ibu Maria?”
Suara itu milik Yohan, pemuda dari lingkungan gereja.
“Ibu, ini ada sedikit beras dan minyak tanah dari kelompok doa. Waktu pertemuan sore tadi, kami teringat Ibu belum sempat hadir, jadi saya diutus mengantar.”
Ibu terdiam. Tangannya bergetar saat menerima bungkusan itu.
Air mata yang sejak pagi ia tahan akhirnya jatuh juga.
“Terima kasih, Yohan… terima kasih. Tuhan pasti membalas kalian.”
Pemuda itu tersenyum, lalu pamit pulang.
Ibu menatap bungkusan itu lama-lama, memeluknya seperti memeluk harapan yang baru turun dari surga.
Malam turun perlahan.
Dapur kembali berasap, kali ini dengan aroma nasi hangat dan sayur kelor.
Ibu menyiapkan piring kecil untuk Jemi, dan satu lagi untuk dirinya.
Mereka makan di lantai, ditemani cahaya lampu minyak yang redup.
Di sela suapan, Ibu bersenandung pelan.
Lagu yang dulu sering ia nyanyikan di paduan suara gereja:
“Jalan-Mu, Tuhan, tak selalu mudah kutahu,
tapi kasih-Mu tak pernah jauh…”
Jemi menatap ibunya sambil tersenyum. “Mama, lagu itu indah.”
Ibu mengusap rambut anaknya. “Iya, Nak. Lagu itu pengingat. Kadang kita tidak tahu jalan Tuhan, tapi kita percaya Dia tidak akan membiarkan kita sendirian.”
Ketika Jemi tertidur malam itu, Ibu duduk di samping tungku.
Api kecil menari lembut, menghangatkan udara yang mulai dingin.
Ia menatap salib kayu kecil di dinding, dan tanpa sadar, bibirnya bergerak pelan: doa dalam diam.
“Terima kasih, Tuhan… Engkau memang tidak datang cepat, tapi Engkau juga tak pernah terlambat.”
Ia tersenyum, menutup matanya, membiarkan damai mengalir perlahan.
Di luar, angin malam berhembus lembut, dan bintang-bintang seolah berkilau lebih dekat malam itu —
seolah ikut berdoa bersama seorang ibu yang tak pernah berhenti percaya.

Posting Komentar
Posting Komentar